12.07.07
Laporan yang Tertunda SGA @ FFAA
Festival Film Asia Afrika
Laporan yang tertunda dari Labtek VI Ruang 9311 ITB
Pembicara : Dewi Lestari dan Seno Gumira Ajidarma
Moderator : Gustaf (dosen FSRD)
Saya baru saja menghadiri dialog kebudayaan antar bangsa yang diselenggarakan dalam rangka Festival Film Asia Afrika 2007 kerja sama Departemen Luar Negeri Indonesia, 11 kedutaan Besar Asia Afrika di Jakarta dan 2 KBRI di Addis Ababa dan Nairobi, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia, dan LFM ITB. Salah satu tujan FFAA adalah agar masyarakat Indonesia terutama generasi muda dapat lebih mengenal berbagai budaya di Asia – Afrika, dan seperti yang tercetus dalam Deklarasi Kerja Sama Strategis Baru Asia Afrika (The New Asian African Strategic Partnership) bahwa salah satu pilar utama dari kerjasama ini adalah People-to-People Contact. Acara ini diselenggarakan di 4 kota di Indonesia :Bandung (The City of Asia-Afrika), Medan, Balikpapan dan Gorontalo. Untuk Bandung sendiri FFAA berlangsung selama 3 hari yaitu 5 – 8 Desember 2007. Selama 3 hari diputar pula 14 film yang berasal dari Iran, Aljazair, Korsel, India, Kenya, Myanmar, Srilanka, Jepang, Uzbekistan, Bngladesh, Ethiopia, RRC, Thailand dan Indonesia sebagai tuan rumah.Berbagai potret bangsa-bangsa Asia Afrika dapat disaksikan di festival ini.Yang menarik dari acara ini pada pembukaannya diselenggarakan Dialog Kebudayaan Antar Bangsa yang pembicaranya adalah Dewi Lestari dan Seno Gumira Ajidarma.
Yg pertama kali dibahas oleh SGA adalah pengertian dialog, kebudayaan dan globalisasi, selanjutnya dimulailah perbincangan tentang kebudayaan, globalisasi, film dan politik. SGA jg menyebutkan bahwa film Indonesia ‘harusnya’ adalah film yg dibuat o/ orang Indonesia, dibintangi oleh orang Indonesia dengan latar belakang Indonesia, dan dengan teknik Indonesia (Teknik Indonesia itu seperti apa yah?? Hehe..). Dibahas juga tentang hegemoni, oposisi, dan resistensi film Indonesia. Termasuk asal mula film Indonesia, yg dianggap pertama adalah Film Darah dan Doa yang dibuat (kalo ga salah 3 Maret atau 3 Mei 1910). Menariknya saat ditanya tentang film pilihannya, SGA selalu menyebut nama Bruce Willis, termasuk sekuel Die Hard 4.0, katanya SGA tertarik film ini karena Bruce Willis yang di film2 die hard sebelumnya digambarkan sebagai ‘hero’, di film ini malah digambarkan ‘antihero’ dan dengan kehidupan yg berbalik dari sebelumnya (cerai dari istrinya dan ananya sendiri ga respect ma dia), dan katanya itulah salah satu kelebihan film Hollywood. Dalam dialog ini, SGA juga menyampaikan bahwa u/ melakukan, memahami ataupun menikmati sesuatu kita harus belajar. Termasuk menikmati buku ataupun film. Sebenarnya sangat banyak yang diperbicangkan dalam dialog ini, mulai dari kenapa film muncul hingga pedagang sebagai pembentuk ekonomi (nyambung ga? Nyambung2 aja disini mah), dan dari Opera Jawa hingga Die Hard 4.0. Tetapi karena kecerobohan saya, buku catatan saya, yang saya gunakan u/ notulensi diskusi tersebut, tertinggal di tempat diskusi berlangsung dan sekarang entah dimana, jadi saya tidak dapat menyampaikan hasil diskusi tersebut lebih detail. Maafkan saya. Sekian laporan yang tertunda dari saya. Oh iya, satu lagi u/ foto2 menyusul yah, saya sedang mengumpulkannya. Hehe..
-Thx-
Catatan :
1. Saya dapat tanda tangan SGA di buku Linguae (lagi), yah lagi karna saya sudah prnah memperolehnya di buku yang berjudul sama (tapi beda- maksudnya buku saya ‘Linguae- secara tidak sengaja ada 2) beberapa bulan yang lalu, tadinya buku ini akan dijadikan hadiah u/ seorang teman lama yang juga penggemar SGA, tetapi sayang disayang dia juga udah punya. Jadi buku saya (yg plus ttd SGA itu lagi -menyombong-) nganggur. Ada yg berminat. Hehe. Mari kita lelang.. Hahaha..
2. Dewi Lestari terlihat membawa novel mas Seno, Kalatidha.. Dapat dari Seno, atau mau minta ttd kayak saya ya?? Hehe..


